Pengikut

Minggu, 07 April 2019

TITRASI PERMANGANOMETRI

PEMBAHASAN
PERMANGANOMETRI
Pengertian Permanganometri
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti:
·      Ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan.
·      Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebutdan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4.
Prinsip dari titrasi permanganometri adalah berdasarkan reaksi oksidasi dan reduksi.Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks. Dalam reaksi ini, ion MnO4- bertindak sebagai oksidator. Ion MnO4- akan berubah menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau besi dalam suatu sampel.Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi.Kalium permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar primer. Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan kalium permanganat menggunakan natrium oksalat adalah:
5C2O4- + 2MnO4- + 16H+ → 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O
Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan kelebihan permanganat.

Kalium Permanganat
Kalium permanganat adalah oksidator kuat. Tidak memerlukan indikator. Kelemahannya adalah dalam medium HCl. Cl- dapat teroksidasi, demikian juga larutannya, mempunyai kestabilan yang terbatas. Biasanya digunakan pada medium asam 0,1 N :
MnO4- + 8 H+ + 5e-Mn2+ + 4 H2O                  E° = 1,51 V
Reaksi oksidasi terhadap H2C2O4 berjalan lambat pada temperatur ruang. Untuk mempercepat perlu pemanasan. Sedangkan reaksinya dengan As (III) memerlukan katalis. Titik akhir permanganat tidak permanen dan warnanya dapat hilang karena reaksi :
2 MnO4- + 3 Mn2+ + 2 H2O                    5 MnO2 + 4 H+
                                    ungu                                              tidak berwarna
Larutan dalam air tidak stabil dan air teroksdasi dengan cara:
4 MnO4- + 2 H2O                 4 MnO2 + 3 O2 + 4 OH-
Penguraiannnya dikatalisis oleh cahaya, panas, asam-basa, ion Mn (II) dan MnO2. MnO2 biasanya terbentuk dari dekomposisinya sendiri dan bersifat autokatalitik. Untuk mempersiapkan larutan standar KMnO4, harus dihindarkan adanya MnO2. KMnO4 dapat distandarkan terhadap  Na2C2O4.
2 MnO4- + 5 H2C2O4 + 6 H+ 2 Mn2+ + 10 CO2 + 8 H2O
Hal ini digunakan untuk analisis Fe (II), H2C2O4, Ca dan banyak senyawa lain.
Kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu/dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser.
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur pengoksidasi, yang cukup kuat untuk mengoksidasiMn(II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan :
3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O → 5MnO2 + 4H+
Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat. Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan permanganat. Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untukmenghilangkan MnO2. Larutan tersebutkemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan. Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting dalam titrasi-titrasi permanganat.
Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan. Sebelum dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi menjadi besi (II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktorJones atau dengan timah (II) klorida. Reduktor Jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk . Jika larutannya mengandung asam klorida seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan lebih memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning dari ion besi.

Prinsip Titrasi Permanganometri
Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks. Dalam reaksi ini, ion MnO4-bertindak sebagai oksidator. Ion MnO4- akan berubah menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau besi dalam suatu sampel.
Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi.

Standar-standar Primer untuk Permanganat
1.    Natrium Oksalat
Senyawa ini, Na2C2O4 merupakan standar primer yang baik untukpermanganat dalam larutan asam. Senyawa ini dapat diperoleh dengan tingkat kemurnian tinggi, stabil pada saat pengeringan, dan nonhigroskopis. Reaksinya dengan permanganat agak sedikit rumit dan berjalan lambat pada suhu ruangan, sehingga larutan biasanya dipanaskan sampai sekitar 60°C. Bahkan pada suhu yang lebih tinggi reaksinya mulai dengan lambat, namun kecepatannya meningkat ketika ion mangan(II) terbentuk. Mangan(II) bertindak sebagai katalis, dan reaksinya disebut autokatalitik, karena katalisnya diproduksi di dalam reaksi itu sendiri. Ion tersebut dapat memberikan efek katalitiknya dengan cara bereaksi dengan cepat dengan permanganat untuk membentuk mangan berkondisi oksidasi menengah (+3 atau +4), di mana pada gilirannya secara cepat mengoksidasi ion oksalat, kembali ke kondisi divalen.
Persamaan untuk reaksi antara oksalat dan permanganat adalah
5C2O42- + 2MnO4- + 16H+→ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
Hal ini digunakan untuk analisis Fe (II), H2C2O4, Ca dan banyak senyawa lain. Selama beberapa tahun analisis-analisis prosedur yang disarankan oleh McBride, yang mengharuskan seluruh titrasi berlangsung perlahan pada suhu yang lebih tinggi dengan pengadukan yang kuat. Belakangan, Fowler dan Brightmenyelidiki secara menyeluruh reaksinya dan menganjurkan agar hampir semua permanganate ditambahkan secara tepat ke larutan yang diasamkan pada suhu ruangan. Setelah reaksinya selesai, larutan tersebut dipanaskan sampai 60°C dan titrasi diselesaikan pada suhu ini. Prosedur ini mengeliminasi kesalahan apa pun yang disebabkan oleh pembentukan hidrogen peroksida.

2.    Besi
Kawat besi dengan tingkat kemurnian yang tinggi dapat dijadikan sebagai standar primer. Unsur ini larut dalam asam klorida encer, dan semua besi(III) yang diproduksi selama proses pelarutan direduksi menjadi besi (II). Oksidasi dari ion klorida oleh permanganat berjalan lambat pada suhu ruangan. Namun demikian, dengan kehadiran besi, oksidasi akan berjalan lebih cepat. Meskipun besi (II) adalah agen pereduksi yang lebih kuat daripada ion klorida, ion yang belakangan disebut ini teroksidasi secara bersamaan dengan besi. Kesulitan semacam ini tidak ditemukan dalam oksidasi dari As2O3 ataupun Na2C2O4 dalam larutan asam klorida.
Sebuah larutan dari mangan (II) sulfat, asam sulfat dan asam fosfat, disebut larutan “pencegah”, atau larutan Zimmermann-Reinhardt, dapat ditambahkan ke dalam larutan asam klorida dari besi sebelum dititrasi dengan permanganat. Asam fosfat menurunkan konsentrasi dari ion besi (III)dengan membentuk sebuah kompleks, membantu memaksa reaksi berjalan sampai selesai, dan juga menghilangkan warna kuning yang ditunjukkan oleh besi (III) dalam media klorida. Kompleks fosfat ini tidak berwarna, dan titik akhirnya lebih jelas.

Larutan standar sekunder
Larutan standar yang konsentrasinya dapat diketahui dengan menggunakan larutan standar primer sebagai pembanding.
Contoh: NaOH, KOH, KMnO4.

Dalam titrasi permanganometri KMnO4 tidak dapat dipakai sebagai larutan standar primer, sebab :
a.    Tidak dapat diperoleh dalam keadaan murni bebas dari MnO2.
b.    Aquades yang digunakan untuk melarukan biasanya mengandung bahan-bahan reduktor yang akan mereduksi KMnO4 menjadi MnO2. Adanya MnO2 merupakan katalisator pada penguraian KMnO4 sendiri.

Larutan standar tersier
Larutan standar yang konsentrasinya dapat diketahui dengan menggunakan larutan standar sekunder sebagai pembanding.


Kelebihan dan Kekurangan Titrasi Permanganometri
Titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif, karena reaksi ini tidak memerlukan indicator, hal ini dikarenakan larutan KMnO4sudah berfungsi sebagai indicator, yaitu ion MnO4-berwarna ungu, setelah direduksi menjadi ion Mn-tidak berwarna, dan disebut juga sebagai autoindikator.
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air.
H2C2O4 + O2 ↔ H2O2+ 2CO2↑
H2O2     ↔  H2O  +  O2↑
Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.

Faktor-faktor Kesalahan
Adapun faktor-faktor kesalahan yang dilakukan pada percobaan ini yaitu :
1.  Pembuatan larutan baku yang  kurang tepat
2.  Kurang teliti pada percampuran larutan
3.   Kurang akurat dalam penimbangan bahan
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri yang lain antara lain larutan pentiter KMnO4 pada buret apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2. penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4, penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.























DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Indah. 2012. Titrasi Permanganometri. http://catatankimia.com/. Diakses pada tanggal 22 Maret 2014.
Dahlia, 2009. Tugas Kelompok Kimia Analitik I Permanganometri. Universitas Negeri Makassar: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Arga, Puput. 2011. Titrasi Permanganometri. Ariyanti, D. 2010. Analisa Permanganometri dalam campuran. http://analisapermanganometri.htmldiakses 23 Mei 2014 pukul 19.40






Laporan Bakteriologi II-Identifikasi Mikroorganisme Pada Sampel Urine

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Judul Praktikum
Isolasi dan identifikasi mikroorganisme pada sampel urine.

B.     Tujuan
Untuk mengetahui cara identifikasi bakteri dan mengetahui bakteri yang terdapat pada sampel urine.

C.    Prinsip
Memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba, kemudian melakukan pewarnaan gram untuk mengidentifikasi bakteri.

D.    Latar Belakang
Mikroorganisme memegang peranan penting, bahkan eksistensinya merupakan persyaratan mutlak bagi terbinanya semua kehidupan yang lain. Pertumbuhan bakteri dialam dipengaruhi oleh beberapa faktor luar seperti substrat, pertumbuhan, pH, temperature dan bahan kimia.
Mikroorganisme yang ada dialam ini menpunyai morfologi, struktur dan sifat yang berbeda, begitu pula dengan bakteri. Bakteri hampir hidup di semua lingkungan begitupun dalam tubuh manusia. Misalnya dalam urine banyak bakteri yang bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
Didalam urine terdapat beberapa mikroba yang patogen dan non patogen bagi tubuh atau lingkungan. Pada kondisi normal, saluran kemih tidak dihuni oleh bakteri manapun atau mikroba lain. Tetapi uretra bagian bawah terutama wanita dihuni oleh berbagai jenis bakteri salah satunya bakteri aerob.
Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Bakteri pada urine secara umum paling banyak adalah Escherichia coli. Infeksi saluran kemih sebagian disebabkan oleh bakteri, namun tudak menutup kemungkinan infeksi dapat terjadi karena jamur dan virus.
Oleh karena itu, dilakukan pengamatan, isolasi dan identifikasi agar dapat diketahui jenis mikroorganisme apa yang terdapat pada urine.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme pada suatu lingkungan alami merupakan populasi campuran dari berbagai jenis, baik mikroorganisme pada tanah, air, udara, makanan, maupun yang terdapat pada tubuh makhluk hidup. (Bibiana, 2010)
Pemisahan mikroorganisme diperlukan untuk mengetahui jenis, mempelajari cultural, morfologi, fisiologi, karakteristik mikroorganisme tersebut. Teknik pemisahan tersebut disebut isolasi yang disertai dengan pemurnian. Isolasi merupakan rangkaian proses pemisahan mikroorganisme agar didapatkan kultur murni (isolat). Isolate-isolat tersebut kemudian ditumbuhkan pada medium terpisah agar dapat tumbuh dengan baik. (Bibiana, 2010)
Pentingnya mengisoalsi suatu mikroba dari lingkungan kita seperti pada diri kita sendiri karena banyaknya mikroba/bakteri yang sulit untuk diamati atau dibedahkan secara langsung oleh panca indera. Sehingga dengan isolasi akan mempermudah kita untuk melihat dan mengamati bentuk-bentuk pertumbuhan mikroba pada beberapa medium yang berbeda-beda serta melihat morfologi dari mikroba. (Pelczar, 2007)
Mengetahui suatu jenis mikroorganisme diperlukan adanya identifikasi. Proses identifikasi dilakukan dengan cara pengamatan pada sampel yang digunakan. Misalnya sampel urine digunakan untuk pengamatan secara morfologi maupun fisiologi. (Bibiana, 2010)
Identifikasi bakteri pada urine biasanya digunakan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri penyebab infeksi saluran kemih adalah jenis bakteri aerob. (Entjang, 2001)
Infeksi saluran kemih adalah salah satu penyakit saluran kemih yang dilalui urine. Infeksi saluran kemih merupakan penyakit nomor 2 paling banyak yang menyerang manusia tiap tahunnya. Saat urin akan melewati saluran kemih maka jalur yang dilaluinya berurutan sebagaimana posisi dari atas ke bawah, yaitu ginjal, ureter, vesika urinaria (kantung kemih) serta uretra. Infeksi saluran kemih diakibatkan oleh bakteri atau kuman yang masuk kedalam saluran kencing yang dapat masuk dari luar, misalnya dari air ketika membersihkan sehabis buang air. (Budiarti T, 2007)
E.coli salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, kantung kemih, ginjal, dan prostat. Infeksi saluran kemih (uretritis) dan kantung kemih (sistitis) menimbulkan gejala demam tidak tinggi, nyerih saat berkemih, sering berkemih, dan terus-menerus merasa ingin berkemih. Infeksi pada ginjal (pyelonefritis) menyebabkan gejala nyeri pada pinggang atau punggung bawah, demam tinggi disertai menggigil, mual, muntah, dan nyeri kepala. Infeksi pada prostat (prostatitis) menimbulkan gejala demam tinggi dengan menggigil, nyeri disekitar anus dan punggung bawah, juga dapat disertai nyerih berkemih dan sering berkemih. Pada beberapa pasien dapat ditemui nyeri otot dan nyeri sendi. (Raynaldi, 2013)
Bakteri pada urine diantaranya kelompok Enterobacteriaceae. Enterobacteriaceae adalah kuman enterik yang hidup diusus besar manusia dan hewan. Kuman enterik adalah kuman berbentuk batang pendek dengan ukuran 0,5m x 3,0 m, negatif gram tidak berspora, gerak positif dengan flagel peritrik (Salmonella, Proteus, Escherichia coli). Sifat biakan kuman enterik adalah koloni kuman biasanya basah, halus, keabu-abuan, permukaannya licin. Pembernihan yang dipakai untuk isolasi kuman enterik adalah Mac Conkey dan EMB serta Agar SS. (Anisah, 2015)
Kultur urin adalah pembiakan mikroorganisme dari bahan urine. Untuk biakan bakteri, ambil urine tanam pada media BHI diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Sampel yang positif ditanam pada media BAP agar dan Mac Conkey, inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Koloni yang tumbuh dicat gram, bila gram negatif batang, maka tanam di media gula-gula, inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Baca pertumbuhan bakteri pada media gula-gula, lakukan identifikasi bakteri.
Pada pemeriksaan kultur urine ada beberapa teknik pengambilan kultur urine yaitu:
1.    Urin porsi tengah, pengambilan urin porsi tengah dilakukan dengan cara sebagai berikut
a.    Pada pasien wanita yaitu dengan cara mencuci tangan dengan sabun dan mengeringkannya.
b.    Menanggalkan pakaian dalam pasien dan melebarkan labia dengan satu tangan.
c.    Membersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril satu arah dengan arah dari depan ke belakang.
d.   Membilas dengan air hangat dan keringkan.
e.    Pada saat pengeluaran urin agar memperhatikan bahwa alirn urine selanjutnya ditampung ke dalam wadah steril.
f.     Menutup wadah kembali dengan rapat dan memberikan langsung ke petugas laboratorium.
Pada pasien laki-laki
a.    Mencuci tangan dengan sabun dan mengeringkannya dengan tissue.
b.    Memperhatikan bahwa urine yang pertama keluar dibuang ke toilet, aliran selanjutnya kemudian ditampung di tempat yang steril.
c.    Menutup wadah kembali dengan rapat dan memberikan langsung ke petugas laboratorium.
2.    Urin Kateter
a.    Petugas melakukan desinfeksi dengan alkohol 70% pada bagian selang kateter.
b.    Petugas melakukan aspirasi urine menggunakan spoit sebanyak 20 ml.
c.    Memasukkan urine dari spoit ke dalam wadah steril.
d.   Petugas mengirim urine segera ke laboratorium.
3.    Urin aspirasi suprapubik
a.    Melakukan desinfeksi pada kulit daerah suprapubik dengan menggunakan providone iodine 10%.
b.    Urin di aspirasi tepat di titik suprapubik menggunakan spoit sebanyak 20 ml dengan cara aseptik.
c.    Urin kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril kemudian di tutup kembali.
d.   Petugas mengirim urin segera ke laboratorium untuk diperiksa.
4.    Pengambilan pada bayi dan anak-anak
a.    Pasien sebelumnya diberikan minuman untuk memudahkan buang air kecil.
b.    Alat genital kemudian dibersihkan dengan menggunakan kasa steril kemudian dibersihkan dengan air hangat dan di keringkan.
c.    Kemudian anak didudukkan di pangkuan perawat.
d.   Anak dipengaruhi untuk mengeluarkan urin kemudian di tampung pada wadah steril.
e.    Bayi dipasangkan kantung penampung urine yang steril pada alat genital.
f.     Urin kemudian dimasukan ke dalam wadah steril yang telah disediakan dan menutup rapat-rapat.
g.    Specimen di kirim ke laboratorium.

Pertumbuhan >105 organisme/ml dari sediaan urine “mid stream” yang bersih mengindikasihkan suatu infeksi. Tetapi seringkali pada ISK yang sebenarnya, pada pasien-pasien yang simtomatis, jumlah yang lebih kecil telah dapat dikatakan sebagai infeksi (102-104 organisme/ml), atau pada sampel yang berasal dari aspirasi suprapubis atau dari sampel yang diambil dari kateter. Sebaliknya pada mid stream urin yang terkontaminasi, jumlah koloninya bisa >105 /ml. wanita simtomatik, >102 organisme koliform/ml urin plus piuria atau 105 organisme patogen apapun/ml urin.






BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A.    Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal   : Jumat, 12 Oktober 2018
Waktu             : 13.00 WITA
Tempat            : Laboratorium Mikrobiologi STIKes Mega Rezky Makassar

B.     Alat dan Bahan
1.   Alat yang digunakan antara lain ose, Bunsen, rak tabung, bak pewarnaan, mikroskop, dan inkubator.
2.   Bahan yang digunakan yaitu biakan bakteri, NA (Nutrient Agar), Mac Conkey, Kristal violet, lugol, safranin, dan alkohol.

C.    Prosedur Kerja
1.   Pewarnaan Urine
a.    Disiapkan alat dan bahan.
b.    Diinokulasi/isolasi sampel urine pada media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey. Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C.
c.    Dilakukan pewarnaan gram.
d.   Dibuat preparat ulas, kemudian difiksasi hingga biakan mengering di preparat.
e.    Diteteskan Kristal violet selama 1 menit, lalu cuci dengan air mengalir.
f.     Ditetesi lugol selama 1 menit. Lalu cuci dengan air mengalir. Kemudian ditetesi alcohol sebagai larutan pemucat, lalu segera cuci dengan air mengalir.
g.    Ditetesi safranin selama 45 detik, lalu cuci dengan air mengalir dan keringkan.
h.    Setelah kering, amati pada perbesaran 1000x
i.      Jika didapatkan bakteri gram positif dilanjutkan dengan uji katalase. Jika didapatkan bakteri gram negative dilanjutkan dengan uji biokimia.
2.   Metode Loop Standar
a.    Disiapkan media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey
b.    Disebarkan sampel pada media secukupnya menggunakan pipet ukur/ose
c.    Digoreskan dengan menggunakan loop secara kuadran
d.   Diinkubasi pada suhu 300C selama 2 hari
e.    Diamati jumlah, bentuk, dan warna koloninya
f.     Dihitung nilai SPC.


















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan sampel urine
Gambar
Keterangan
Media NA (Nutrient Agar)

Bentuk        : menyebar
Permukaan  : tidak teratur
Tepi             : tidak teratur
Warna          : kuning keruh (biakan)

Media Mac Conkey

Bentuk        : menyebar
Permukaan  : tidak teratur
Tepi             : tidak teratur
Warna          : kuning keruh (biakan)

Pewarnaan Gram

Hasil mikroskopik dari pewarnaan gram adalah bakteri gram positif basil berspora.
Uji Katalase



Hasil uji katalase menunjukkan hasil positif (terdapat gelembung disekitar koloni)












B.     Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan yaitu identifikasi bakteri pada urine.
Sampel urine yang digunakan, tidak lagi diisolasi pada media BHIB (Brain Heart Infusion Broth), tetapi langsung diinokulasi pada media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey, hal ini bertujuan untuk melihat tingkat kepadatan infeksi pada urine. Kemudian media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C.
Setelah 24 jam dilakukan pengamatan pada media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey yaitu mengitung tingkat kepadatan infeksi urine. Hasil yang didapatkan yaitu 103 jumlah ini sudah dapat dikatakan sebagai infeksi, ini memingkinkan sampel yang didapatkan berasal dari aspirasi suprapubis atau dari sampel yang diambil dari kateter. Sehingga jumlah yang didapatkan kecil. Pada kedua media juga ditumbuhi biakan bakteri, sehingga media yang akan digunakan untuk pewarnaan adalah media Mac Conkey.
Pewarnaan gram dilakukan pertama-tama dengan melakukan fiksasi terhadap preparat ulas agar sampel melekat baik pada preparat. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian Kristal violet selama 1 menit lalu dicuci dengan air mengalir. Ditetesi lugol selama 1 menit untuk mempertahankan zat warna pertama, lalu cuci dengan air mengalir. Setelah itu larutan pemucat (alkohol) lalu segera cuci dengan air mengalir. Terakhir ditambahkan safranin selama 45 detik untuk memberi warna pada gram negative.
Dari hasil pengamatan di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000x, didapatkan hasil bakteri gram positif basil berspora. Karena hasilnya gram positif basil, maka uji biokimia tidak dilakukan tetapi melakukan uji katalase.
Uji katalase dilakukan untuk melihat apakah bakteri katalase positif dapat membentuk gelembung udara disekitar koloni. Dan hasil yang didapatkan positif yang ditandai dengan terdapatnya gelembing disekitar koloni.
Bakteri basil berspora ditemukan karena jenis basil ini juga termasuk juga ke dalam bakteri gram positif. Pewarnaan spora tidak dilakukan karena bahan untuk pewarnaan spora tidak tersedia.
Letak spora ada 3 macam yaitu sentral (letak spora berada ditengah-tengah sel), terminal (letak spora ada di ujung sel) dan sub terminal (letak spora berada diantara ujung dan tengah-tengah sel). Jika spora terlepas dari bakteri dan menjadi spora yang bebas, maka spora tersebut bisa tumbuh menjadi satu sel bakteri yang baru.
Dari hasil ini, dicurigai bakteri yang didapatkan yaitu bakteri Bacillus sp atau Clostridium sp.



















BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil bakteri yang didapatkan pada sampel urine adalah bakteri gram positif basil berspora dan dicurigai bakterinya adalah Bacillus sp atau Clostridium sp.

B.     Saran
Pada saat proses isolasi/inikulasi, pewarnaan, dan pengamatan harus dilakukan dengan cara yang benar dan steril agar hasil yang didapatkan sesuai.
















DAFTAR PUSTAKA
Anisah, 2015. Media Alternatif untuk Pertumbuhan Bakteri Menggunakan Sumber Karbohidrat yang Berbeda. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Bibiana, 2010. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raya Grafindo Persada
Budiarti, T. 2007. Fisiologi Mikroba. Jakarta: Bumi Aksara
Entjang, 2001. Mikrobiologi dan Parasit. Bandung: Citra Aditya Bakti
Pelczar, 2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Raynaldi, 2013. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press

TITRASI PERMANGANOMETRI

PEMBAHASAN PERMANGANOMETRI Pengertian Permanganometri Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium...