BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Judul
Praktikum
Isolasi dan identifikasi mikroorganisme pada sampel
urine.
B.
Tujuan
Untuk mengetahui cara identifikasi bakteri dan
mengetahui bakteri yang terdapat pada sampel urine.
C.
Prinsip
Memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya
yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba, kemudian melakukan pewarnaan
gram untuk mengidentifikasi bakteri.
D.
Latar
Belakang
Mikroorganisme memegang peranan penting, bahkan
eksistensinya merupakan persyaratan mutlak bagi terbinanya semua kehidupan yang
lain. Pertumbuhan bakteri dialam dipengaruhi oleh beberapa faktor luar seperti
substrat, pertumbuhan, pH, temperature dan bahan kimia.
Mikroorganisme yang ada dialam ini menpunyai
morfologi, struktur dan sifat yang berbeda, begitu pula dengan bakteri. Bakteri
hampir hidup di semua lingkungan begitupun dalam tubuh manusia. Misalnya dalam
urine banyak bakteri yang bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
Didalam urine terdapat beberapa mikroba yang patogen
dan non patogen bagi tubuh atau lingkungan. Pada kondisi normal, saluran kemih
tidak dihuni oleh bakteri manapun atau mikroba lain. Tetapi uretra bagian bawah
terutama wanita dihuni oleh berbagai jenis bakteri salah satunya bakteri aerob.
Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang
dikeluarkan melalui ginjal. Bakteri pada urine secara umum paling banyak adalah
Escherichia coli. Infeksi saluran
kemih sebagian disebabkan oleh bakteri, namun tudak menutup kemungkinan infeksi
dapat terjadi karena jamur dan virus.
Oleh
karena itu, dilakukan pengamatan, isolasi dan identifikasi agar dapat diketahui
jenis mikroorganisme apa yang terdapat pada urine.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Mikroorganisme
pada suatu lingkungan alami merupakan populasi campuran dari berbagai jenis,
baik mikroorganisme pada tanah, air, udara, makanan, maupun yang terdapat pada
tubuh makhluk hidup. (Bibiana, 2010)
Pemisahan
mikroorganisme diperlukan untuk mengetahui jenis, mempelajari cultural,
morfologi, fisiologi, karakteristik mikroorganisme tersebut. Teknik pemisahan
tersebut disebut isolasi yang disertai dengan pemurnian. Isolasi merupakan
rangkaian proses pemisahan mikroorganisme agar didapatkan kultur murni
(isolat). Isolate-isolat tersebut kemudian ditumbuhkan pada medium terpisah
agar dapat tumbuh dengan baik. (Bibiana, 2010)
Pentingnya
mengisoalsi suatu mikroba dari lingkungan kita seperti pada diri kita sendiri
karena banyaknya mikroba/bakteri yang sulit untuk diamati atau dibedahkan secara
langsung oleh panca indera. Sehingga dengan isolasi akan mempermudah kita untuk
melihat dan mengamati bentuk-bentuk pertumbuhan mikroba pada beberapa medium
yang berbeda-beda serta melihat morfologi dari mikroba. (Pelczar, 2007)
Mengetahui suatu
jenis mikroorganisme diperlukan adanya identifikasi. Proses identifikasi
dilakukan dengan cara pengamatan pada sampel yang digunakan. Misalnya sampel
urine digunakan untuk pengamatan secara morfologi maupun fisiologi. (Bibiana,
2010)
Identifikasi
bakteri pada urine biasanya digunakan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri
yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri penyebab infeksi
saluran kemih adalah jenis bakteri aerob. (Entjang, 2001)
Infeksi saluran
kemih adalah salah satu penyakit saluran kemih yang dilalui urine. Infeksi saluran
kemih merupakan penyakit nomor 2 paling banyak yang menyerang manusia tiap
tahunnya. Saat urin akan melewati saluran kemih maka jalur yang dilaluinya
berurutan sebagaimana posisi dari atas ke bawah, yaitu ginjal, ureter, vesika
urinaria (kantung kemih) serta uretra. Infeksi saluran kemih diakibatkan oleh
bakteri atau kuman yang masuk kedalam saluran kencing yang dapat masuk dari
luar, misalnya dari air ketika membersihkan sehabis buang air. (Budiarti T,
2007)
E.coli salah satu
bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi saluran kemih, kantung kemih, ginjal, dan prostat. Infeksi saluran
kemih (uretritis) dan kantung kemih (sistitis) menimbulkan gejala demam tidak
tinggi, nyerih saat berkemih, sering berkemih, dan terus-menerus merasa ingin
berkemih. Infeksi pada ginjal (pyelonefritis)
menyebabkan gejala nyeri pada pinggang atau punggung bawah, demam tinggi
disertai menggigil, mual, muntah, dan nyeri kepala. Infeksi pada prostat (prostatitis) menimbulkan gejala demam
tinggi dengan menggigil, nyeri disekitar anus dan punggung bawah, juga dapat
disertai nyerih berkemih dan sering berkemih. Pada beberapa pasien dapat
ditemui nyeri otot dan nyeri sendi. (Raynaldi, 2013)
Bakteri pada
urine diantaranya kelompok Enterobacteriaceae.
Enterobacteriaceae adalah kuman enterik yang hidup diusus besar manusia dan
hewan. Kuman enterik adalah kuman berbentuk batang pendek dengan ukuran 0,5
m
x 3,0
m,
negatif gram tidak berspora, gerak positif dengan flagel peritrik (Salmonella, Proteus, Escherichia coli).
Sifat biakan kuman enterik adalah koloni kuman biasanya basah, halus,
keabu-abuan, permukaannya licin. Pembernihan yang dipakai untuk isolasi kuman
enterik adalah Mac Conkey dan EMB
serta Agar SS. (Anisah, 2015)
Kultur urin adalah
pembiakan mikroorganisme dari bahan urine. Untuk biakan bakteri, ambil urine
tanam pada media BHI diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Sampel
yang positif ditanam pada media BAP agar dan Mac Conkey, inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam.
Koloni yang tumbuh dicat gram, bila gram negatif batang, maka tanam di media
gula-gula, inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Baca pertumbuhan
bakteri pada media gula-gula, lakukan identifikasi bakteri.
Pada pemeriksaan kultur
urine ada beberapa teknik pengambilan kultur urine yaitu:
1. Urin
porsi tengah, pengambilan urin porsi tengah dilakukan dengan cara sebagai
berikut
a. Pada
pasien wanita yaitu dengan cara mencuci tangan dengan sabun dan
mengeringkannya.
b. Menanggalkan
pakaian dalam pasien dan melebarkan labia dengan satu tangan.
c. Membersihkan
labia dan vulva menggunakan kasa steril satu arah dengan arah dari depan ke
belakang.
d. Membilas
dengan air hangat dan keringkan.
e. Pada
saat pengeluaran urin agar memperhatikan bahwa alirn urine selanjutnya
ditampung ke dalam wadah steril.
f. Menutup
wadah kembali dengan rapat dan memberikan langsung ke petugas laboratorium.
Pada
pasien laki-laki
a. Mencuci
tangan dengan sabun dan mengeringkannya dengan tissue.
b. Memperhatikan
bahwa urine yang pertama keluar dibuang ke toilet, aliran selanjutnya kemudian
ditampung di tempat yang steril.
c. Menutup
wadah kembali dengan rapat dan memberikan langsung ke petugas laboratorium.
2. Urin
Kateter
a. Petugas
melakukan desinfeksi dengan alkohol 70% pada bagian selang kateter.
b. Petugas
melakukan aspirasi urine menggunakan spoit sebanyak 20 ml.
c. Memasukkan
urine dari spoit ke dalam wadah steril.
d. Petugas
mengirim urine segera ke laboratorium.
3. Urin
aspirasi suprapubik
a. Melakukan
desinfeksi pada kulit daerah suprapubik dengan menggunakan providone iodine
10%.
b. Urin
di aspirasi tepat di titik suprapubik menggunakan spoit sebanyak 20 ml dengan
cara aseptik.
c. Urin
kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril kemudian di tutup kembali.
d. Petugas
mengirim urin segera ke laboratorium untuk diperiksa.
4. Pengambilan
pada bayi dan anak-anak
a. Pasien
sebelumnya diberikan minuman untuk memudahkan buang air kecil.
b. Alat
genital kemudian dibersihkan dengan menggunakan kasa steril kemudian
dibersihkan dengan air hangat dan di keringkan.
c. Kemudian
anak didudukkan di pangkuan perawat.
d. Anak
dipengaruhi untuk mengeluarkan urin kemudian di tampung pada wadah steril.
e. Bayi
dipasangkan kantung penampung urine yang steril pada alat genital.
f. Urin
kemudian dimasukan ke dalam wadah steril yang telah disediakan dan menutup
rapat-rapat.
g. Specimen
di kirim ke laboratorium.
Pertumbuhan
>105 organisme/ml dari sediaan urine “mid stream” yang bersih mengindikasihkan suatu infeksi. Tetapi
seringkali pada ISK yang sebenarnya, pada pasien-pasien yang simtomatis, jumlah
yang lebih kecil telah dapat dikatakan sebagai infeksi (102-104
organisme/ml), atau pada sampel yang berasal dari aspirasi suprapubis
atau dari sampel yang diambil dari kateter. Sebaliknya pada mid stream urin yang terkontaminasi,
jumlah koloninya bisa >105 /ml. wanita simtomatik, >102
organisme koliform/ml urin plus piuria atau 105 organisme patogen
apapun/ml urin.
BAB
III
METODOLOGI
PERCOBAAN
A.
Waktu
dan Tempat
Hari/Tanggal : Jumat, 12 Oktober 2018
Waktu : 13.00 WITA
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi STIKes
Mega Rezky Makassar
B.
Alat
dan Bahan
1. Alat
yang digunakan antara lain ose, Bunsen, rak tabung, bak pewarnaan, mikroskop,
dan inkubator.
2. Bahan
yang digunakan yaitu biakan bakteri, NA (Nutrient
Agar), Mac Conkey, Kristal
violet, lugol, safranin, dan alkohol.
C.
Prosedur
Kerja
1. Pewarnaan
Urine
a. Disiapkan
alat dan bahan.
b. Diinokulasi/isolasi
sampel urine pada media NA (Nutrient Agar)
dan Mac Conkey. Diinkubasi selama 24
jam pada suhu 370C.
c. Dilakukan
pewarnaan gram.
d. Dibuat
preparat ulas, kemudian difiksasi hingga biakan mengering di preparat.
e. Diteteskan
Kristal violet selama 1 menit, lalu cuci dengan air mengalir.
f. Ditetesi
lugol selama 1 menit. Lalu cuci dengan air mengalir. Kemudian ditetesi alcohol
sebagai larutan pemucat, lalu segera cuci dengan air mengalir.
g. Ditetesi
safranin selama 45 detik, lalu cuci dengan air mengalir dan keringkan.
h. Setelah
kering, amati pada perbesaran 1000x
i. Jika
didapatkan bakteri gram positif dilanjutkan dengan uji katalase. Jika
didapatkan bakteri gram negative dilanjutkan dengan uji biokimia.
2. Metode
Loop Standar
a.
Disiapkan media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey
b. Disebarkan
sampel pada media secukupnya menggunakan pipet ukur/ose
c. Digoreskan
dengan menggunakan loop secara kuadran
d. Diinkubasi
pada suhu 300C selama 2 hari
e. Diamati
jumlah, bentuk, dan warna koloninya
f. Dihitung
nilai SPC.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan
Tabel
hasil pengamatan sampel urine
Gambar
|
Keterangan
|
Media
NA (Nutrient Agar)
![]() |
Bentuk : menyebar
Permukaan : tidak teratur
Tepi : tidak teratur
Warna : kuning keruh (biakan)
|
Media
Mac Conkey
![]() |
Bentuk : menyebar
Permukaan : tidak teratur
Tepi : tidak teratur
Warna : kuning keruh (biakan)
|
Pewarnaan
Gram
![]() |
Hasil mikroskopik
dari pewarnaan gram adalah bakteri gram positif basil berspora.
|
Uji
Katalase
![]() |
Hasil
uji katalase menunjukkan hasil positif (terdapat gelembung disekitar koloni)
|
B.
Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan yaitu identifikasi
bakteri pada urine.
Sampel urine yang digunakan, tidak lagi diisolasi pada media
BHIB (Brain Heart Infusion Broth),
tetapi langsung diinokulasi pada media NA (Nutrient
Agar) dan Mac Conkey, hal ini
bertujuan untuk melihat tingkat kepadatan infeksi pada urine. Kemudian media NA
(Nutrient Agar) dan Mac Conkey diinkubasi selama 24 jam pada
suhu 370C.
Setelah 24 jam dilakukan pengamatan pada media NA (Nutrient Agar) dan Mac Conkey yaitu mengitung tingkat kepadatan infeksi urine. Hasil
yang didapatkan yaitu 103 jumlah ini sudah dapat dikatakan sebagai
infeksi, ini memingkinkan sampel yang didapatkan berasal dari aspirasi
suprapubis atau dari sampel yang diambil dari kateter. Sehingga jumlah yang
didapatkan kecil. Pada kedua media juga ditumbuhi biakan bakteri, sehingga
media yang akan digunakan untuk pewarnaan adalah media Mac Conkey.
Pewarnaan gram dilakukan pertama-tama dengan melakukan fiksasi
terhadap preparat ulas agar sampel melekat baik pada preparat. Kemudian
dilanjutkan dengan pemberian Kristal violet selama 1 menit lalu dicuci dengan
air mengalir. Ditetesi lugol selama 1 menit untuk mempertahankan zat warna
pertama, lalu cuci dengan air mengalir. Setelah itu larutan pemucat (alkohol)
lalu segera cuci dengan air mengalir. Terakhir ditambahkan safranin selama 45
detik untuk memberi warna pada gram negative.
Dari hasil pengamatan di bawah mikroskop dengan perbesaran
1000x, didapatkan hasil bakteri gram positif basil berspora. Karena hasilnya
gram positif basil, maka uji biokimia tidak dilakukan tetapi melakukan uji
katalase.
Uji katalase dilakukan untuk melihat apakah bakteri katalase
positif dapat membentuk gelembung udara disekitar koloni. Dan hasil yang
didapatkan positif yang ditandai dengan terdapatnya gelembing disekitar koloni.
Bakteri basil berspora ditemukan karena jenis basil ini juga
termasuk juga ke dalam bakteri gram positif. Pewarnaan spora tidak dilakukan
karena bahan untuk pewarnaan spora tidak tersedia.
Letak spora ada 3 macam yaitu sentral (letak spora berada
ditengah-tengah sel), terminal (letak spora ada di ujung sel) dan sub terminal
(letak spora berada diantara ujung dan tengah-tengah sel). Jika spora terlepas
dari bakteri dan menjadi spora yang bebas, maka spora tersebut bisa tumbuh menjadi
satu sel bakteri yang baru.
Dari
hasil ini, dicurigai bakteri yang didapatkan yaitu bakteri Bacillus sp atau Clostridium
sp.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
hasil bakteri yang didapatkan pada sampel urine adalah bakteri gram positif
basil berspora dan dicurigai bakterinya adalah Bacillus sp atau Clostridium
sp.
B.
Saran
Pada
saat proses isolasi/inikulasi, pewarnaan, dan pengamatan harus dilakukan dengan
cara yang benar dan steril agar hasil yang didapatkan sesuai.
DAFTAR
PUSTAKA
Anisah, 2015. Media
Alternatif untuk Pertumbuhan Bakteri Menggunakan Sumber Karbohidrat yang
Berbeda. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Bibiana, 2010. Analisis
Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raya Grafindo Persada
Budiarti, T. 2007. Fisiologi
Mikroba. Jakarta: Bumi Aksara
Entjang, 2001. Mikrobiologi
dan Parasit. Bandung: Citra Aditya Bakti
Pelczar, 2007. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Raynaldi, 2013. Mikrobiologi
Umum. Malang: UMM Press




Tidak ada komentar:
Posting Komentar